Arsip

Archive for the ‘Fiqh Pernikahan’ Category

Manja Isteri


Tak semua orang suka bunga. Ada yang menganggap bunga sebagai simbol kelemahan: pembuat lalai dan pembunuh keberanian. Mereka pun menjauhi bunga. Tapi, bunga tetap bunga. Harum. Indah. Menawan.

Sulit mengungkapkan kata yang pas buat suami yang bingung dengan manja sang isteri. Memang, manja buat sebagian suami bisa menyenangkan dan menyegarkan. Ada dunia lain yang ia masuki. Baru dan menarik. Sesuatu yang baru biasanya menyegarkan.

Tapi, ada sebagian suami yang tak suka dengan manja. Ia menerjemahkan manja sebagai kekanak-kanakan, cengeng, kurang tegar, lemah pendirian, dan masih banyak sifat lain. Pokoknya, manja serupa dengan kelemahan. Dan Islam tidak suka dengan kelemahan. Dengan kata lain, Islam benci dengan kemanjaan. Benarkah?

Perasaan itulah yang saat ini menggoyang konsentrasi Gani. Satu tahun sudah bahtera rumah tangganya berlayar. Sebuah waktu perjalanan yang tergolong muda. Bahkan, belum apa-apa. Jangankan samudera, pantai tempat berlabuh pun masih jelas terlihat. Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan

Mengapa Aku Harus Menikahimu?


Muslimahzone.com - Ini adalah kisah seorang pemuda tampan yang shalih dalam memilih calon istri, kisah ini tak bisa dipastikan fakta atau tidak, namun semoga pelajaran yang ada didalamnya dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama Muslimah yang belum menikah semoga menjadi renungan.

Ia sangat tampan, taat (shalih), berpendidikan baik, orangtuanya menekannya untuk segera menikah.

Mereka, orangtuanya, telah memiliki banyak proposal yang datang, dan dia telah menolaknya semua. Orangtuanya berpikir, mungkin saja ada seseorang yang lain yang berada di pikirannya.

Namun setiap kali orangtuanya membawa seorang wanita ke rumah, pemuda itu selalu mengatakan “dia bukanlah orangnya!”

Pemuda itu menginginkan seorang gadis yang relijius dan mempraktekkan agamanya dengan baik (shalihah). Suatu malam, orangtuanya mengatur sebuah pertemuan untuknya, untuk bertemu dengan seorang gadis, yang relijius, dan mengamalkan agamanya. Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan

Karenanya Kau dipilih


Muslimahzone.com – Begitu banyakkah wanita yang belum menemukan jodohnya? Sungguh suatu fenomena yang memprihatinkan. Bukankah pernikahan merupakan kebutuhan mendasar? Semua orang menginginkan dan merindukan. Lepas dari jumlah perempuan yang semakin membengkak, tentu tak luput dari faktor kriteria pilihan.Tidak bisa dipungkiri lelaki biasanya memasang setumpuk kriteria calon istrinya, begitupun dengan wanita punya segudang syarat untuk calon suaminya. Tidak jarang saking ketat dan tingginya kriteria mengakibatkan jodoh sebatas angan-angan.

Kembang, sebut saja begitu, usia sudah merayap pada angka 40-an tahun. Berkali-kali proses pernikahannya gagal. Cantik memang tidak dimilikinya, tinggi juga kurang, kekayaan pun tidak  bisa diharapkan, parahnya lagi dia juga bukan tipe wanita yang rajin mengkaji ilmu agama dan akhlak. Hari-harinya dilalui dengan penuh tanda tanya, kapankah suami akan diperolehnya? Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan

Ya Akhi, Haruskah Aku yang Meminangmu?


Sobat, jika melihat judul maka apa yang bisa kita simpulkan? Ya, betul.. ini adalah untaian kata hati yang ingin disampaikan oleh seorang muslimah, seorang akhwat untuk seorang ikhwan, yang ia dambakan kelak akan menjadi qiyadahnya. Namun yang sering terjadi adalah seperti kisah ini,

***

Kisah ini terjadi di beijing Cina, seorang gadis bernama Yo Yi Mei memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah. Namun ia tidak pernah mengungkapkannya, ia hanya selalu menyimpan di dalam hati dan berharap temannya bisa mengetahuinya sendiri. Tapi sayang temannya tak pernah mengetahuinya, hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih.

Suatu hari Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak, tapi ia tersenyum “Aku harap kau bahagia“. Sepanjang hari Yo Yi Mei bersedih, ia menjadi tidak ada semangat hidup, tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan

Suami Harapan, Harapan Istri


Suatu saat, Aisyah ra istri terkasih Rasulullah saw bercerita kepada suaminya, tentang sebelas perempuan yang saling berjanji untuk jujur dan tidak saling merahasiakan sesuatu pun tentang tingkah laku suaminya. Perempuan pertama berkata, “Suamiku laksana daging onta busuk yang terletak di puncak gunung.” Kita tahu, puncak gunung itu susah untuk didaki, sekalipun daging itu sudah busuk, ia tak mudah juga diambil. Maksudnya suaminya itu sangat bakhil kepada istrinya dan akhlaknya pun sangat buruk.

Perempuan kedua bercerita, “Riwayat suamiku tak dapat aku sebutkan satu persatu. Aku khawatir berkepanjangan untuk dibicarakan. Jika aku ceritakan, aku takut bulu kuduk yang mendengarkan berdiri semua dan keringatnya pun menjadi bercucuran.” Ia memberi isyarat betapa kasar dan mempunyai banyak aib suaminya itu. Cerita itu bisa membuat pendengarnya jengkel dan mengeluarkan keringat dingin. Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan

Siapa Calon Suami Idaman Anda


Wahai saudariku,

Engkau pasti menginginkan seorang suami yang baik. Suami yang bertanggung jawab yang mampu membimbingmu dalam ketaatan kepada Allah. Seorang suami yang mampu menjadi imam bagimu. Suami yang akan menanggung beban hidupmu, yang akan membuatmu selalu tersenyum. Suami yang selalu menyediakan pundaknya untuk tempatmu bersandar, suami yang akan membelai rambutmu dengan penuh kasih sayang. Suami yang akan mengusap air matamu dan mengatakan, “Dinda, semua akan baik-baik saja. Allah bersama kita.”

Engkau pasti mendambakan seorang suami yang bersikap lembut kepadamu. Suami yang mampu memahami perasaanmu, mampu menyelami hatimu. Suami yang tegas dalam menegur kesalahanmu, suami yang akan membimbingmu agar tindakanmu tidak salah. Engkau pasti mendambakan suami seperti itu. Engkau pasti memimpikan suami yang shalih. Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan

Mau Gak Mas, Menikah Lagi?


Beberapa bulan setelah menikah, aku pernah bertanya pada suamiku, tentang seorang gadis yang urung dinikahinya,. Sampai detik itu, dia belum menikah juga.

“Gimana kalau dia sekarang Mamas nikahi aja?” tanyaku, memberanikan diri dan sangat berempati dengan gadis tersebut.

Usul yang ditanggapinya dengan mendelik, “Tidak mungkinlah. Berat. Ngawur nih Ajeng usulnya”

Masalah ta’adud memang masalah sensitif, khususon buat perempuan. Tapi aku mencoba lebih banyak menggunakan landasan syari’at saat bicara masalah ini. Aku tak pernah meminta dia untuk berjanji bahwa dia tak akan menduakanku selamanya demi cinta. Dia juga tidak mau berjanji, karena dia tahu, itu sudah masuk wilayah taqdir Allah. Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan

Kebutuhan dan Keinginan dalam Mencari Jodoh


Bila ada kenalan yang butuh pinjaman uang dan saya pas tidak memilikinya, dengan mudah saya merekomendasikan teman yang lain. Atau paling tidak saya meminjam ke teman tersebut untuk dijadikan piutang terhadap teman yang meminjam. Namun, kasus meminta tolong akan bikin pening manakala si kenalan butuh bantuan dicarikan teman hidup alias jodoh.

Meski saya bukan biro jodoh, entah mengapa ada saja yang meminta bantuan pada saya dan istri untuk soal masa depan ini. Pernah kenalan kami, dan terhitung dekat dengan istri, begitu ingin menikah. Ia blak-blakan ingin pendamping hidup lantaran faktor usia. Usia si pemohon sebenarnya masih empat tahuan untuk sampai ke kepala tiga. Namun, kesadaran dan juga ingin menggenapkan separuh agama lewat pernikahan, menghempaskan rasa malunya selama ini untuk diganti bicara apa adanya.

Pada perempuan itu, ia tengah menghadapi gulana. Bukan sekadar gelisah akibat tren menikah di usia muda yang dilakukan teman-teman kuliahnya. Melainkan, sebuah kebutuhan yang memang tidak bisa ditepiskan. Ini tak ada kaitan dengan mitos lama bahwa perempuan di umur dua puluhan masih selektif dan pelit membuka calon pelamar. Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan

Istri Idaman, Yang Seperti Apa?


Dulu di tengah canda antara penghuni kos-kosan di gang Jengkol, Ceger, Pondok Aren, sambil mencuci atau ketika sedang setrika baju di pagi hari, kami, saya dan teman-teman satu kos sering bersaut tentang sosok perempuan, akhwat sang calon istri idaman kelak, bayangan sosok yang ideal tentunya, disela lirik nasyid:

Istri cerdik yang sholihat
Penyejuk mata
Penawar hati
Penajam fikiran

Di rumah dia istri dijalanan kawan
Dikala kita buntu dia penunjuk jalan

Saat itu, menurut kami seorang calon istri adalah, seorang perempuan, seorang akhwat yang ngerti agama, qonaah, tawadhu, tentunya seorang yang sempurna sebagai calon ibu, cantik (tentunya), sabar, romantis, bisa manjain suami (maunya), idealisme yang sempurna. Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan

Ekspektasi Berlebihan pada Calon Isteri Idaman


Seorang teman masih surut untuk mengutarakan perasaan kagum yang mengarah pada cinta ke perempuan yang baru dikenalnya. Surut keberaniannya bukan lantaran perempuan asing itu tidak dikenal reputasinya. Bahkan perempuan itu dengan mudah bisa ditelusuri rekam jejaknya, baik dari jalur darat maupun dari jagat maya. Informasi sudah didapat teman saya, dan mengarah pada kesimpulan bahwa perempuan berjilbab lebar itu seorang ‘bukan sembarangan’.

Di sini persoalannya. Teman tadi merasa tidak selevel bila bersanding dengannya. Jangankan bersanding, untuk sekadar maju saja rasanya harus mengukur diri. Persoalannya selesai manakala dia harus melek dan mawas diri bila keadaannya demikian. Teman saya rupanya tidak; dia semacam masih penasaran. Jadilah, perasaan dipendam antara kagum, takut dan tak mencoba meningkatkan diri. Read more…

Kategori:Fiqh Pernikahan
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: