Beranda > Fiqh Wanita > Adab Seorang Muslimah Dalam Berbicara

Adab Seorang Muslimah Dalam Berbicara


Bicara, suatu hal yang selalu kita lakukan, karena bicara merupakan suatu tidak lanjut atas karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita, yaitu mulut. Namun terkadang kita dalam berbicara tidaklah mengetahui akan adab-adab atau etika dalam berbicara. Ukhti sekalian, Islam telah menetapkan akan hal ini dalam suatu prioritas tertentu, dimana Islam telah menetapkan akan adab-adab atau etika seorang muslim atau muslimah dalam berbicara. Dalam kehidupan sehari-hari yang tidak akan kita lalui kecuali kita temui diri ini pasti bicara. Dikala kita berbicara, terkadang kita berbicara seenaknya perut kita, kita tak memperhatikan bilamana perkataan kita menyinggung ataupun menyakitkan hati lawan bicara kita. Terkadang saat kita ditegur atas ucapan kita yang langsung maupun tak langsung menyakiti perasaan orang lain, maka kita sering bilang “ini kan mulut-mulut gue, ya terserah gue dong ngomong mau apa, itu kan hak-hak kita mau apa lo”. Yap, memang benar itu mulut mereka, hak mereka atau apalah namanya, terserah. Namun apabila hak ngomong terserah mereka, maka sudah semestinya mereka juga mempehatikan hak kita juga, yaitu ngomonglah dengan santun tanpa menyakiti perasaan orang lain. Dalam hal ini Islam telah memberikan adab-adab ataupun etika yang telah diajarkan melalui Rasulullah, begini adab-adabnya :

1.Hendaklah pembicaran selalu di dalam kebaikan.

2.Hendaknya kita berbicara dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu pelan.

3.Berbicaralah dengan jelas, gunakanlah bahasa yang dimengerti dan dapat difahami oleh semua orang.

4.Berbicaralah dengan tidak cara dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.

5.Janganlah berbisik-bisik dalam berbicara jika ada seorang teman lain yang mendengarkan selainnya.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).

6.Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu atau bagi orang lain.

7.Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar dari orang lain, karena akan membuat bosan atau malas orang lain.

Bahwasannya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar”.(HR. Muslim)

8.Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

9.Menjauhi perkataan dusta sekalipun hanya bercanda.

10.Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa.

Aisyah Radhiallaahu ‘anha. telah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya”. (Mutta-faq’alaih).

11.Menghindari perkataan jorok (keji).

12.Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara.

Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu ‘anhu disebutkan: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun”. Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: “Orang-orang yang sombong”. (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).

13.Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Hujurat: 12).

14.Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya pembicaraannya.

15.Tidak menampakkan bahwa kita telah lebih mengetahui akan apa yang dibicarakannya nanti.

16.Tidak menganggap rendah pendapa atau mendustakannya dalam suatu majelis.

17.Jangan egois dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

18.Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan

19.Tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan

20.Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang

rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiridan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah imandan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al-Hujurat: 11).

Nah, nampaknya udah cukup 20 adab-adab hal yang perlu kita perhatikan sekaligus kita laksanakan ketika kita berbicara. Ukhti sekalian sebagai tambahan saat seorang muslimah berbicara dengan lawan jenis yang bukan mahram kita, maka sudah semestinya kita menundukan pandangan dan tetap menjaga hijab diantara muslim dan muslimah. Berbeda saat seorang muslimah berbicara dengan muslimah orang lain, maka ia dapat berbicara dengan saling melihat, juga saling tertawa kecil mungkin, saling-saling yang lain. Maka ketika seorang muslimah berbicara dengan seorang muslim, hendaklah kita tetap menjaga pandangan, jaga hati, karena bicara kita juga termasuk aurat seorang muslimah yang harus kita jaga.

Ditulis oleh : ArtikelMuslimah.com

Kategori:Fiqh Wanita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: