Beranda > Fiqh Wanita > Adab Seorang Muslimah Ketika Bercanda

Adab Seorang Muslimah Ketika Bercanda


Ketika kita berbicara dengan orang lain maka tak jarang kita selingi dengan saling bercanda atau bersendau gurau antar sesama.. Ada banyak hal yang dapat dijadikan suatu bahan untuk bercanda, namun tak semua hal itu boleh kita gunakan untuk bahan bercanda, karena boleh jadi apa yang kita canda tawakan itu justru akan membawa suatu keburukan bagi kita. Wahai, ukhti ketika seorang muslimah bercanda maka sudah seharusnya ia tahu akan adab-adab atau akhlak dalam bercanda. Memang bercanda nggak boleh?, maka jawabannya tentu saja boleh, namun tentunya ada adab-adab atau etikanya. Dalam artikel ini saya ingin memberikan sedikit ilmu akan adab-adab dalam bercanda, yaitu :

1.Hendaknya apa yang kita percandakan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam.

Karena tak pantas apa yang ada dalam islam, baik itu nama-nama Allah, ayat-ayat-Nya kita jadikan bahan canda tawa kita, karena seharusnya itu menjadi bahan kita dalam belajar islam atau sebagai bahan dakwah kita.

Allah SWT telah berfirman yang artinya :

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. (At-Taubah: 65).

2.Hendaknya kita dalam bercanda tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara kita.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani).

3.Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengandung unsur dusta. Dan hendaknya kita tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya orang lain tertawa.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah”. (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

4.Hendaknya kita tidak bercanda atau menjadikan orang yang lebih tua sebagai bahan bercanda, karena seharusnya mereka kita hormati dan sayangi.

5.Bagi seorang muslim laki-laki maka ia tidaklah boleh bercanda terhadap muslimah yang bukan mahramnya, karena akan menimbulkan fitnah diantara mereka.

6.Janganlah kita terlalu asyik dalam bercanda, sehingga akan membuat rusak akhlak kita atau bahkan membuat jatuh wibawa seseorang sehingga kita akan sering dijadikan bahan canda tawa teman kita.

7.Hendaknya kita dapat mengetahui terhadap orang yang tidak bisa bercanda atau tidak dapat menerima canda tawa kita, sehingga tidak akan membuat sakit hati orang lain.

Ditulis oleh : ArtikelMuslimah.com

Kategori:Fiqh Wanita
  1. qosdie
    Maret 8, 2008 pukul 4:38 pm

    tertawalah sekedarnya, karena bisa menghilangkan rasa penat tetapi bagi muslimah tertawa ada etikanya. bagi muslimah tertawab mesti tidak keras karena suara itu bisa menimbukan fitnah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: