Beranda > Fiqh Wanita > Benarkah Seorang Ibu Tidak Pernah Marah?

Benarkah Seorang Ibu Tidak Pernah Marah?


Benar gak sih, ada seorang ibu yang tidak pernah marah selama mendidik anak-anaknya? Terbayanglah dari benak dengan sebuah jawaban, tidak mungkin ada. Tapi, apa yang digembar-gemborkan oleh buku-buku pendidikan anak baik metode dan tips-tips praktis mencetak generasi cerdas nan cemerlang, maupun artikel-artikel serta dialog-dialog interaktif di mass media dapat disimpulkan bahwa seolah-olah seorang ibu dalam mendidik anaknya harus perfect alias sempurna. Atau dengan kata lain tidak boleh ada kesalahan sedikit pun dalam mengarahkan anak-anaknya.

Sosok ibu merupakan panutan bagi anak-anaknya, di manapun di belahan bumi ini. Mengantarkan seorang anaknya agar siap secara psikis dalam memulai masuk jenjang sekolah formal, bukanlah pekerjaan mudah. Oleh karena itu banyak dari kalangan ibu yang mencari bahan-bahan bacaan, baik artikel, tabloid, majalah, berita, maupun mengikuti sebuah seminar, pelatihan cara mendidik anak. Home schooling, misalnya.

Memang ada ungkapan kata-kata bijak dari seorang tokoh pembaharu yang mengatakan bahwa “pendidikan bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya dimulai dari pendidikan”. Kalau kita pikir-pikir dan renungkan, statement tersebut benarlah adanya. Tidak bisa tidak, mendidik anak menjadi cerdas nan cemerlang atau sholih, mau tidak mau, suka tidak suka, sempat tidak sempat harus mencari ilmu dulu bagaimana mendidik itu. Kalau mau mencetak anak yang cerdas tidak pakai pendidikan khusus orang tua atau khusus guru yang akan membimbingnya, ya pastilah hasilnya gagal atau paling tidak sesuai dengan standar.

Saya yakin Anda pernah membaca buku tentang cara mendidik anak, tersebutlah disana sederet aturan ataupun tips-tips mengarahkan anak menjadi generasi yang kokoh, baik mental, spiritual maupun kecerdasannya. Bahasa agak kerennya anak menjadi paripurna dalam aspek Emotional Intelligent, Spiritual Intelligent, dan ketinggian skor IQ.

Akan tetapi pernahkan Anda berpikir bahwa orang tua atau sebutlah seorang ibu tidak pernah berbuat kesalahan dalam mendidik anak-anaknya? Betulkah orang tua atau seorang ibu bahkan seorang guru tidak diperbolehkan melakukan kesalahan dalam mendidik anak didiknya? Bahasa gampangnya mendidik anak dengan sedikit kebablasan amarah yang dikedepankan.

Seorang ibu juga manusia, ingat itu. Yang namanya manusia pastilah punya seabrek kelemahan dan kesalahan. Inilah realita yang ada di masyarakat manusia. Idealnya memang seperti apa yang saya tulis di awal, bahwa mendidik anak harus dengan cinta, kasih sayang, kelembutan. Ya, benar sekali. Tidak salah. Tetapi, mendidik anak dengan cinta, bukan berarti tidak boleh ada kesalahan, bukan berarti tadak boleh marah.

Satu analogi tentang pendidikan terhadap seekor kucing, saya yakin Anda pernah melihat kucing yang sangat patuh maupun kucing yang bandel. Bagi Anda yang pernah mendidik kucing kesayangannya atau kucing liar, pasti Anda pernah memukulnya alias marah terhadapnya karena tidak mau mengikuti perintah Anda.

Pernah terpikir oleh Anda tidak, bahwa hal tersebut boleh jadi efektif dalam mendidik si kucing sehingga dia menjadi binatang piaraan yang mau disuruh kesana-kemari. Tetapi ternyata, si kucing tadi patuhnya hanya saat Anda yang menyuruh. Tapi jika disuruh oleh orang lain, ia sama sekali ‘tidak bergerak’.  Nah, kira-kira apa yang bisa kita renungkan dari analogi mendidik kucing tadi?. Anda lebih tahu dari saya.

Kemarahan terkadang efektif untuk sebuah pembiasaan terhadap suatu perilaku, tetapi biasanya hanya berlaku temporer dan parsial. Artinya, disini saya ingin mengatakan bahwa melakukan kesalahan dalam mendidik anak dengan terkadang mengedepankan amarah itu hanya kesalahan yang bisa ditolelir selama Anda segera menyadarinya. Tetapi jika amarah terus berlanjut sampai kronis, saya ingatkan bahwa anak Anda dilahirkan bukan untuk dimarahi. Jangan jadikan ia menjadi seorang yang sadis seperti Anda ketika marah.

Kemarahan adalah hal yang manusiawi, yang tidak perlu terlalu dipusingkan. Setelah Anda marah kepada buah hati, segera lakukan yang namanya ‘ishlah’, perbaikan dengan memeluk anak tersebut, akui kesalahan, belailah ia dengan belaian yang hangat, katakan “maafin ibu ya nak, ibu akan merubah sikap ibu, ibu hanya tidak suka pada perilaku adik yang kurang baik, bukan sama adik, ibu sayang kamu”. Atau mungkin Anda punya kata-kata yang lebih menggugah hati si buah hati Anda dalam mengungkapkan rasa penyesalan ibu atas sikap amarah tadi.

 

Oleh: Ahmad Nur Irsan Finazli, Banjarbaru

Seorang hypnotherapist di Mitrasolusi Indonesia

Kategori:Fiqh Wanita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: