Beranda > Fiqh Wanita > Eksistensi Seorang Ibu

Eksistensi Seorang Ibu


Seorang ibu ibarat sekolah…..

Apabila kamu siapkan dengan baik…..

Berarti kamu menyiapkan satu bangsa (generasi) yang unggul…..

Keluarga mempunyai pengaruh yang sangat dominan dalam pembentukan anak-anak dan penentuan jalan hidup mereka. Bahkan keluarga adalah peletak dasar bagi pewarisan agama dan akhlak (moral).

Seorang penyair Arab bertutur :

Generasi muda kita akan terbentuk

Sesuai apa yang dibiasakan ayahnya.

Peran ayah dalam rumah tangga Islam sangat berpengaruh terhadap pendidikan keluarga dan anak-anaknya. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana kehebatan dan kekuatan tekad sang anak, Nabi Ismail as merespon mimpi yang disampaikan sang ayah. Nabiyullah Ibrahim as terbukti telah berhasil menanamkan pendidikan tauhid yang begitu agung dalam jiwa si anak, Ismail karena bagaimanapun sang anak tak bisa terdidik dan memiliki sikap yang begitu kuat begitu saja tanpa sentuhan pendidikan dan pembinaan orang tua. Dan Ismail telah membuktikan hasil pendidikan ayahnya nabi Ibrahim as dalam sikapnya yang rela berkorban apapun demi terlaksananya perintah Allah.

Pendidikan dalam Islam tentang hubungan sang ayah terhadap keluarga telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Karena bila kita mengetahui bahwa Rasulullah menikah dan mempunyai keluarga itu sebenarnya merupakan jawaban dan contoh konkrit peran-peran ayah dalam keluarganya. Rasulullah adalah juru dakwah paling agung, mujahid paling mulia, dan beliau menikah, itu tandanya Rasulullah SAW juga membina rumah tangganya.

Rasulullah mempunyai perhatian yang tinggi terhadap anak-anak. Rasulullah tertawa bersama anak-anak dan sholat bersama mereka. Dari Abu Qotadah disebutkan “Rasulullah SAW sholat bersama kami sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika beliau sujud diletakkannya Umamah dan bila beliau berdiri digendongnya.” Betapa besar perjuangan yang harus dijalani Rasulullah untuk memancangkan tonggak dakwah di masa-masa awal untuk mempersiapkan estafet kepemimpinan masa depan.

Seorang lelaki datang menghadap Amirul Mukminin Umar bin Khattab melaporkan tentang kedurhakaan anaknya. Khalifah lantas memanggil anak yang dikatakan durhaka itu dan mengingatkan bahaya durhaka pada orang tua. Saat ditanya sebab kedurhakaannya, anak itu mengatakan “Wahai Amirul Mukminin, tidaklah seorang anak, mempunyai hak yang harus ditunaikan orang tua?” “ya,” jawab Khalifah. “Apakah itu?” Tanya anak itu. Khalifah menjawab, “Ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, memberi nama yang baik dan mengajarinya Al-Qur’an.” Lantas sang anak menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, tidak satupun dari 3 perkara itu yang ditunaikan ayahku. Ibuku Majusi, namaku Ja’lan dan aku tidak pernah diajarkan Al-Qur’an.

Umar bin Khattab lalu menoleh kepada ayah anak itu dan mengatakan, “Anda datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata anda telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Anda telah berlaku tidak baik terhadapnya sebelum ia berlaku tidak baik kepada anda.”

Lantas.. apakah hanya ayah saja sebagai pihak yang menanamkan pendidikan dalam diri anak-anak?

Tidak ada satu orangpun yang menafikan peran-peran besar yang ada di tangan seorang ibu bagi masa depan anak-anak. Pada saat Maryam melahirkan putranya yang menjadi nabi yang mulia tanpa ayah, dikatakan padanya : “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” Ini menunjukkan pengaruh kedua orang tuanya akan mewarnai keturunannya bahkan oleh cucu-cucunya.

Para ilmuwan dan agamawan menegaskan bahwa orang tua mewariskan kepada anak-cucunya sifat-sifat jasmaniyah dan ruhaniyah melalui gen yang mereka miliki. Dalam bahasa hadits, Nabi menamai gen dengan ‘iriq’. Beliau berpesan agar calon ayah berhati-hati dalam memilih tempat untuk menaburkan benih yang mengandung gen karena al-‘irqu dassas (gen sedemikian kecil dan tersembunyi namun memberi pengaruh pada keturunan). Inilah yang merupakan salah satu sebab mengapa Al Qur’an melarang seorang muslim menikah dengan seorang musyrik atau seorang pezina (lihat QS 24 : 3)

Ibu, bagaimanapun mempunyai pengaruh penting pada kepribadian anak sehingga mereka bisa merasakan kenyamanan, keteduhan, dan kepercayaan diri yang kuat menjalani hidupnya.

Ibu… dalam bahasa Al-Qur’an dinamai dengan umm. Dari akar kata yang sama dibentuk kata imam (pemimpin) dan ummat. Semua bermuara pada makna “yang dituju atau yang diteladani”. Umm atau ibu melalui perhatiannya kepada anak serta keteladanannya dapat menciptakan pemimpin-pemimpin bahkan membina ummat, pada gilirannya berpengaruh pada masa depan bangsa. Sebaliknya jika yang melahirkan seorang anak tidak berfungsi sebagai umm maka ummat akan hancur dan pemimpin yang layak untuk diteladani tidak akan lahir.

Ketika Al-Qur’an menempatkan kewajiban berbuat baik kepada orang tua khususnya ibu – pada urutan kedua setelah kewajiban taat kepada Allah dan Rasul-Nya, agaknya bukan hanya disebabkan ibu memikul beban berat dalam mengandung, melahirkan, dan menyusui anak. Tetapi karena ibu dibebani tugas menciptakan pemimpin-pemimpin umat.

Fungsi dan peranan inilah yang menjadikannya sebagai umm atau ibu. Dan demi suksesnya fungsi tersebut, Allah menganugerahkan kepada kaum ibu struktur biologis dan ciri psikologis yang berbeda dengan kaum bapak. Peranan ini tidak dapat diremehkan atau dikesampingkan. Beban dan tanggung jawab peran ini menyamai pekerjaan suami di luar rumah. Sehingga syariat telah mengarahkan kedua jenis ini kepada apa yang layak bagi masing-masing dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Kemampuan-kemampuan khusus yang dimiliki oleh beberapa wanita tidak menghapus cirri dari peran ini.

Ulama besar kenamaan, Ibnu Hazm (384-456) mengatakan : baik dan terpuji apabila seorang ibu atau istri, mencuci, membersihkan, mengatur rumah tempat tinggalnya, tetapi itu bukan merupakan kewajibannya. Agaknya, ketika ulama besar ini mengemukakan pendapat ini seribu tahun yang lalu dan diidamkan oleh pelopor emansipasi, beliau ingin menekankan pentingnya kewajiban ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Begitu besar peran ibu, maka para ahli mengatakan, “Tidak disangsikan lagi bahwa peran perempuan yang terpenting dalam kehidupan adalah sebagai ibu dan pendidik generasi, dimana dalam peran ini, seorang perempuan memberikan sumbangsih bagi masyarakat dengan segala unsur pembangunan dan kemajuan. Sebesar apa ketulusannya dalam kepentingan ini, sebesar itu pula hasil yang diterima seluruh umat.”

Oleh karena itulah generasi yang kuat dan unggul merupakan buah dari anak-anak yang tidak disia-siakan dan ditelantarkan. Mereka dibina oleh para ibu yang waspada dan oleh para ayah yang sadar.

Wallahu’alam bishshowab.

Kategori:Fiqh Wanita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: