Beranda > Fiqh Wanita > Ibu, Oh Ibu

Ibu, Oh Ibu


Oleh Desriani

Assalamualaikum wr wb……

Nama saya Desriani saat ini lagi studi di Tokyo…..Tulisan ini dibuat oleh adik saya Dian Hafizah……Saya pengen pembaca yang lain juga menikmati tulisan Dian…..semoga ada hikmah yang bisa dipetik…….

Saat saya mencoba membuat tulisan ini agak bingung juga awalnya. Tidak tahu mulai dari mana hanya berusaha mencoba mengarang-ngarang apa kira-kira yang akan saya tuliskan, karena sepertinya tidak ada darah pujangga yang mengalir dalam darah saya dan saya pun menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa pemilihan kata-kata saya sangatlah terbatas jika tidak mau dibilang sangat payah, apalagi yang akan dibahas topiknya adalah suatu yang istimewa bagi orang banyak yaitu tentang ibu.

Sebetulnya tema ini adalah sesuatu yang tidak pernah basi untuk dijadikan inspirasi, bagaimana tidak, mulai dari puisi, lagu hingga ke kata-kata indah di dalam blog, koran maupun majalah banyak yang mengagung-agungkan betapa mulianya peran seorang ibu sebagai pelindung, pengayom dan tempat anak-anaknya mengadukan semua masalahnya. Dulu sewaktu kecil saya pernah mendengar lagu dari penyanyi yang saya lupa namanya, liriknya sederhana namun sangat menyentuh hati
“Ibu, ibu,……..
engkaulah ratu hatiku,
bila kuberduka,
engkau hiburkan selalu,
ibu, ibu…….”

Saat saya menulis tulisan ini pun sayup-sayup saya mendengar lagu Melly Guslow berjudul bunda yang terkenal itu dari telepon genggam teman saya yang menjadikan lagu itu sebagai nada deringnya. Begitu banyak semua penghargaan dan semuanya itu didedikasikan bagi ibu seorang.

Ironisnya waktu saya kecil dahulu pernah terlintas pikiran bahwa apa yang dilakukan oleh seorang ibu dalam mengasuh dan merawat anaknya adalah sudah sewajarnya dilakukan oleh setiap wanita yang memiliki anak. Semua orang melakukannya dan bila kelak saya sudah besar sayapun akan melakukan hal yang sama. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya yang dibesarkan oleh ibu yang dalam anggapan saya adalah biasa saja sebenarnya adalah orang yang benar-benar beruntung. Bagaimana tidak karena kenyataannya banyak wanita yang membuang bayi dan menelantarkan anak-anaknya atau bahkan mengeksploitasi anak itu untuk kepentingan mereka sendiri. Terus apakah mereka bisa dipanggil sebagai ibu? entahlah….

Apakah anda pernah merenung tentang oksigen yang terdapat bebas di alam raya sebagai tanda kasih sayang tuhan kepada kita. Udara itu selalu memenuhi rongga dalam tubuh kita dan mengalir dalam aliran darah kita tanpa kita sadari. Namun pasti tak pernah kita membayangkan apa yang terjadi bila kita satu menit saja tanpa udara, maka apakah yang akan terjadi. Kasih sayang seorang ibu itu tidak ubahnya seperti udara yang selalu kita hirup tadi. Ia juga adalah hadiah yang diciptakan Tuhan untuk kita. Tapi kadang kala keberuntungan itu memang kurang bisa kita disyukuri karena sudah bertahun-tahun kita nikmati, sehingga yang terjadi kita malah selalu merasa kurang dan menganggap itulah yang seharusnya terjadi.

Sedari tadi saya menyinggung-nyinggung tentang keistimewaan ibu seolah olah beliau adalah seorang yang tak boleh melakukan salah. Sama sekali tidak seperti itu, bagaimanapun ibu bukanlah malaikat tanpa cela dan noda. Seorang ibu adalah manusia biasa juga yang pasti ada salah dan khilafnya. Ibu saya pun begitu pula. Namun hal itu tidak menghalangi saya untuk memenuhi masa kecil saya dengan mozaik-mozaik yang berisikan pengalaman-pengalaman baik suka maupun duka bersama dengan ibu saya.
Saya teringat pernah suatu ketika saya yang usia siswa sekolah dasar mengejar-ngejar ibu yang dengan “teganya” meninggalkan saya yang notabene adalah anaknya.

Ups…. jangan salah sangka dulu bahwa ibu saya tidak bertanggung jawab terhadap anaknya, karena waktu itu ibu saya yang berprofesi sebagai guru sudah terlambat mengajar dan saya yang akan berangkat sekolah (yang pastinya terlambat juga ) masih sibuk mencari pasangan kaus kaki yang hanya sebelah padahal ibu saya sudah jauh hari mengingatkan untuk menyiapkan keperluan besok paginya tapi tidak saya lakukan. Waktu itu saya sempat protes kenapa ibu saya bukan ibunya teman saya yang pastinya akan mempersiapkan kebutuhan anaknya alih-alih menyuruh anaknya mempersiapkan kebutuhannya sendiri sambil menangis bombay di tepi jalan sampai akhirnya berhenti sendiri karena malu dilihat orang (he he he akhirnya saya tidak jadi sekolah hari itu dan akhirnya dimarahi oleh ayah saya).

Atau pada saat saya marah-marah karena ternyata cokelat yang saya sayangi dan dimakan sehemat mungkin hingga diharapkan bisa bertahan dalam waktu yang lama dan sudah saya sembunyikan dengan baik di dalam lemari baju tiba-tiba raib entah kemana. Usut punya usut ternyata keberadaannya diketahui sudah berada dalam perut ibu saya.

Kenangan lain yang saya ingat adalah bagaimana setiap hari ibu saya selalu menyisir rambut saya yang panjang. Jangan bayangkan rambut saya lurus dan bagus karena secara saya itu anak SD yang sebenarnya belum mampu mengurus rambut sendiri sering kali rambut saya kusut dari pada rapinya tapi tetap saja saya bersikeras tidak mau memotong rambut saya, maka kemudian ibu saya bercanda bilang bahwa rambut yang tidak mau diatur itu mencerminkan hati yang kusut pula dan karena saya anak kecil yang tidak tahu arti candaan malah menanggapinya serius dan bersungut sungut karena dibilang kusut hati padahal keesokannya tetap saja akhirnya saya mencari ibu untuk menyisirkan rambut saya lagi.

Namun dari semuanya itu saya juga teringat saat ibu saya selalu menunggui saya yang memang selalu penyakitan sedari kecilnya. Pernah saya untuk pertama kalinya pulang ke rumah naik bus sendirian dari kota tempat saya kuliah ke kampung pada malam hari pula, dan kemudian langsung masuk angin dan muntah-muntah. Ibu lalu mengusapkan balsem ke dada dan punggung saya dan menunggui saya semalaman. Itu baru masuk angin, coba bayangkan apa yang dilakukan oleh ibu saat asma saya kambuh malam buta dan saya kesulitan bernafas padahal penyebab asma saya kambuh adalah karena saya melanggar pantangan dokter dengan minum es sembunyi-sembunyi di siang hari.

Atau saat ibu memberikan saya entah itu makanan ataupun buah-buahan dan kemudian kami memakannya berdua secara sembunyi-sembunyi. Jangan beranggapan bahwa tidak ada makanan di rumah kami karena sebetulnya setiap hari saat ibu pulang berbelanja pasti ibu selalu membawa makanan berupa camilan dalam jumlah yang banyak antara lain tape, lemang, kerupuk, sate, berbagai macam es, dan berbagai macam buah sesuai dengan musimnya, namun ada beberapa makanan favorit yang hanya bisa diakses oleh ibu saja. Dasar namanya anak-anak walaupun banyak makanan lain namun apabila bisa memakan makanan yang disembunyikan ibu membuat saya merasa diistimewakan dari saudara-saudara yang lain. Pada saat saya sudah agak besar saya baru tahu bahwa ibu juga membeli makanan “istimewa” tadi dalam jumlah yang banyak dan memastikan semua anaknya dapat makanan “istimewa” itu.

Saya dan saudara saya juga sering berburu harta karun di rumah. Yang dimaksud harta karun ini makanan yang disembunyikan oleh ibu antara lain berbagai macam permen, milkshake, kopi instan, dan berbagai macam jenis kacang-kacangan dan makanan favorit ibu manisan buah pala, tentu saja hal ini berlangsung tanpa sepengetahuan ibu. Harta karun ini tersebar di berbagai tempat di rumah antara lain di laci meja, di dapur, dalam kaleng, dibalik pintu dan tentu saja di dalam lemari di bawah tumpukan baju (nah sekarang tahukan bakat siapa yang saya warisi….).

Selain membeli makanan ibu juga rajin sekali membuat berbagai macam kue, seingat saya selalu ada persediaan tepung terigu, gula dan telur di rumah. Sore-sore ibu membuat bolu atau bubur kacang hijau atau bila bakat eksploitasi ibu lagi meningkat ibu kemudian mencoba resep-resep aneh di majalah. Saya sering bertindak sebagai asisten ibu biasanya sebagai tukang timbang atau tukang bakar dan yang paling sering adalah sebagai tukang cuci piring (salah satu tugas yang tidak saya favoritkan). Saat saya dewasa bakat ini kemudian menurun ke saya.

Walaupun ibu membuat camilan dalam jumlah banyak (bayangkan saja ibu selalu membuat bubur kacang hijau satu panci besar) namun pasti selalu habis dan anehnya selalu saja ada yang mengaku belum dapat (atau belum dapat banyak). Untuk mengantisipasinya biasanya ibu menyisihkan sebagian makanan tersebut sehingga apabila ada yang komplain bisa minta lagi pada ibu.

Bila kita bicara tentang kerajinan yang dilakukan oleh ibu, salah satu hal lain yang rajin dilakukan oleh ibu waktu kami anak-anaknya masih kecil adalah mencari kutu. Bukan jorok atau apa tapi karena kami tinggal di kampung yang notabene anak-anaknya tidak dibesarkan secara higienis masih banyak anak-anak yang kutuan dan karena kutu itu menular maka migrasi kutu antar kepala satu dengan yang lainnya tak terhindarkan. Jadi hipotesisnya kalau anda ingin populer dan mempunyai banyak teman maka kutuan adalah resiko yang harus anda terima. Ditambah lagi dengan kutu yang dibawa oleh kakak saya yang tertular dari teman kosnya (kakak saya yang tertua kuliah di kota yang berbeda) maka populasi kutu di kepala kami pun bertambah padat dengan pertumbuhan penduduk yang bertambah secara signifikan. Waktu itu belum ada peditox jadinya proses pembasmian kutu dilakukan secara manual dan kontinu oleh ibu dengan bersenjatakan sisir yang rapat dan dialas dengan kain putih bekas popok adik bayi saya. Akibat insiden kutu ini pulalah kemudian saya merelakan rambut panjang nan kusut masai tapi saya sayangi dipotong pendek ala cowok.
Banyak lagi kenangan lain yang saya lalui bersama ibu di samping saya, seperti pada saat saya ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri di kota, sepertinya hanya saya satu-satunya peserta ujian yang ditunggui oleh ibu, walaupun diolok-olok oleh teman saya tapi keberadaan ibu di luar ruang ujian merupakan obat mujarab yang mampu menenangkan hati saya yang bergemuruh (ternyata belakangan baru saya tahu bahwa ibu tidak menunggu di luar kelas saat saya ujian karena beliau pergi berbelanja ke pasar dan kemudian kembali lagi saat ujian hampir selesai ). Bahkan kebiasaan diantar dan ditunggui ibu masih berlanjut sampai saat saya akan menyusun skripsi, ibu dengan setia menemani saya mengumpulkan data ke petani bahkan ikut hadir dan menimpali tanya jawab yang saya lakukan dengan petani tersebut (“Serasa penelitian S3” kata beliau). Tentu saja saat yang paling membahagiakan dan yang bisa saya banggakan adalah saat ibu menghadiri wisuda saya. Pastinya wisuda bukanlah suatu akhir tapi adalah satu pintu untuk memulai tahapan baru dan saya senang karena bisa mempersembahkan momen tersebut untuk ayah dan ibu saya.
Hingga akhirnya saya seperempat abad begitu banyak kenangan yang tidak akan terlupakan. Sekarang saya berada jauh dari ibu sehingga barulah kemudian saya menyadari betapa beruntungnya saya jadi bagian dari hidup beliau. Saat ini kami lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan telepon saja. Beliau sering menelepon hanya untuk menanyakan kabar dan apakah saya sudah makan atau belum. Suatu kali beliau bercerita bahwa bubur kacang hijau yang dibuatnya hanya setengah dari porsi yang biasanya tidak jua habis padahal sudah dua hari terletak dalam kulkas. Kebiasaan beliau menyembunyikan “harta karun” juga masih saja dilakukan sampai sekarang padahal tidak ada lagi yang akan menghabiskan.
Saat-saat yang paling saya tunggu adalah saat musim liburan dan ada kesempatan pulang, saat itulah kami anak-anak beliau berkumpul lagi dan rumah kembali ramai, dan itu artinya perburuan harta karun pun berlangsung dan ibu dapat menyalurkan hobinya membuat camilan walaupun kemudian sering ngomel-ngomel karena belum sempat mencicipi makanan yang dibuatnya sementara camilannya itu sudah habis duluan. Dan saat masa itu tiba dengan semua kehebohan yang terjadi tidak pernah terpikirkan lagi bahwa andaikan ibu saya berbeda dari yang sekarang ini.
Demikianlah sepenggal kisah yang saya lalui bersama dengan ibu diantara banyak kenangan lain yang tak terlupakan, ada suatu quote yang pernah saya baca menginspirasi saya untuk membuat puisi
Ibu saya bukanlah Khadijah yang melahirkan generasi penerus nabi,
bukan pula ibu Iqomah yang maafnya seluas samudra,
Ibu saya hanyalah ibu diakhir jaman,
Yang meregang nyawa melahirkan generasi penerus darahnya,
Dalam maafnya ada pengampunan,
Dalam salahnya ada pembelajaran,
Air susunya mengalirkan kehidupan;
Karena anaknya adalah kesayangan.

Kategori:Fiqh Wanita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: