Beranda > Fiqh Rumah Tangga > Menjaga Kehormatan Perempuan Ketika ‘Single Fighter’

Menjaga Kehormatan Perempuan Ketika ‘Single Fighter’


Karena Allah yang Maha Menjagaku, disaat kuarungi perjuangan sebagai Ibu kujalani  seorang diri.

Lalu bukankah ikhtiarku atas penjagaan kehormatanku, yang kelak akan menentukan penjagaan Allah terhadapku.

Maka kepada Nya aku berserah diri. Lalu berbesar hati atas segala ketetapan Illahi.

Katakanlah (Muhammad): “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah:51)

***

Sarah melangkah gontai dari ruangan yang cukup suram selama hidupnya. Jilbab pink muda basah karena airmata yang ia tahan di ruangan itu tumpah di dalam mobil  bersama kakak dan kedua orang tuanya. Ruangan pengadilan agama seperti penjara saja baginya. Seolah terdakwa, yang membuka aib rumah tangga di depan banyak orang. Keputusan bercerai amatlah sulit ia pilih. Niat suaminya untuk membina rumah tangga dengan peremuan lain sepertinya sudah mematahkan semua cita-cita yang ingin ia bangun kelak. Sungguh bukan ia tidak menghormati apa yang dilakukan Rasulullah setelah wafatnya Khadijah ra, tapi suaminya masih belum dapat membuktikan bahwa  ia mampu untuk adil. Keputusan suaminya pun sepertinya tidak dapat di ubah lagi. Sungguh tak mampu pula ia diduakan. Setelah pergulatan batin selama berbulan-bulan, akhirnya ia memutuskan untuk mengalah setelah 9 tahun ia mengarungi hidup bersama keluarga kecilnya. Kedua anaknya tentu masih belum mengerti benar apa yang terjadi antara Ayah dan Ibunya. Namun anak pertama mereka yang duduk di kelas 2 SD mulai menanyakan kenapa mereka tinggal dirumah nenek tanpa ayahnya.

Proses pengambilan keputusan ini tidaklah mudah, Sarah meminta nasehat para tetua di keluarga besarnya. Airmata sudah habis, bukan karena ada perempuan lain yang mengisi hati suaminya. Namun karena ia tahu bahwa Allah sedang menguji cinta Sarah, cinta yang seharusnya karena Allah semata.

Sekarang yang ia tahu bahwa, hidup sendiri akan membuat ia lebih berjuang untuk menjaga kedua buah hatinya dan menjaga kehormatannya karena statusnya yang berbeda. Dalam doa selalu ia berdoa “Yaa Rabb, lindungilah hamba selalu dalam penjagaan-Mu. Bantu hamba untuk tetap berpijak di Jalan Mu”.

***

Kita dan muslimah lain tentu tidak pernah menginginkan hal itu terjadi. Namun percayalah, takdir Allah selalu baik. Selalu ada hikmah yang menyertai setiap ujian dalam kehidupan. Pasangan yang tak sejalan lagi, seperti rumah tangga Sarah membuat Sarah memutuskan untuk berpisah baik-baik dengan suaminya. Atau pasangan yang lebih dulu berpulang ke Rahmatullah. Maka mau tak mau, amanah untuk mengasuh anak seorang diri atau ‘Single Parent’ pun harus dijalani oleh istri.

Bukan pilihan hidup yang mudah ketika memutuskan untuk tidak menikah lagi atau memutuskan belum menikah dulu, karena banyak yang harus dipertimbangkan dalam menjalaninya kelak. Mulai dari menghadapi kedua orang tua, mertua dari suami, anak, keluarga besar sampai tetangga.

Bukanlah perkara mudah ketika memilih untuk menjadi ‘Single Parent’. Beberapa ibu muda yang memiliki pekerjaan dan dihadapkan pada persoalan menjadi ‘Single Parent’, mungkin akan memilih untuk konsentrasi membesarkan anak. Lalu bagaimana dengan para ibu yang belum bekerja. Disini akan memaksa mereka untuk lebih berkreasi dalam mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Karena mereka tidak bisa menggantungkan hidup dari orang lain, yang sebelumnya kebutuhan dicukupi oleh suami, karena keadaan sudah berbeda maka persoalan mencukupi kebutuhan hidup pun juga berbeda.

Banyak beban yang ditanggung para ’Single Parent’ ini. Tidak hanya beban materi saja yang harus mereka hadapi, beban sosial pun juga menguji mental mereka. Tak sedikit komentar sumbang yang mereka terima jika mereka tidak pandai-pandai menjaga diri sebagai bentuk ikhtiar dalam berjuang agar fitnah tidak sering mereka hadapi. Perempuan yang masih berstatus lajang saja rawan menimbulkan fitnah. Apalagi mereka yang bersatus ‘pernah menikah’. Harus dipahami bahwa masyarakat kita masih rentan untuk status yang satu ini.

Terbagi menjadi 2 macam sebab mengapa mereka memilih untuk menjadi ‘Single Parent’, yang berdasar pada analisis sederhana di lingkungan sekitar. Yang pertama adalah mereka memilih untuk tidak menikah lagi hingga mereka mantu-bercucu-atau bahkan bercicit, kebanyakan dari mereka adalah para istri yang ditinggal suaminya berpulang lebih dulu ke Rahmatullah. Yang kedua adalah mereka yang menghilangkan trauma pasca perceraian mereka, baru setelah itu mereka siap membangun rumah tangga dengan pasangan baru lagi.

Disini perlu ditekankan, belum pernah saya temui hadist yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW melarang seorang janda untuk menikah lagi. Bahkan Rasulullah pernah menikahi seorang janda yang ditinggal mati suaminya, ia tidak cantik dan tidak kaya namun kokoh kadar keimanannya. Wanita itu adalah  Saudah binti Zum’ah. Jelaslah bahwa Rasulullah memuliakan seorang janda. Rasulullah menikah bukan karena keindahan fisik semata.

Apapun pilihan seorang ‘Single Parent’, baik yang tidak ingin menikah lagi atau  yang sedang berusaha menyembuhkan trauma hingga siap menikah lagi, keduanya memiliki tugas yang berat yaitu menjaga kehormatan mereka. Hal ini membuat mereka lebih menjaga diri ketika bersosialisasi dengan lingkungan hingga berhati-hati saat berinteraksi dengan lawan jenis. Supaya terhindar dari fitnah. Bukankah wanita adalah sumber fitnah di dunia. Maka menghargai diri sendiri adalah kunci utama dalam bersosialisasi, sehingga tali silaturrahim terjalin dengan baik tanpa adanya prasangka dari orang lain.

Ilmu dan Iman seorang perempuan sangat dibutuhkan untuk membuat keadaan lebih bersinergi secara positif. Dengan Ilmu, mereka mampu menyikapi permasalahan sesuai tuntunan Nya, mampu berkehidupan sesuai syariat Nya mulai dari mencukupi kebutuhan keluarga hingga aktualisasi diri agar lebih bermanfaat di dunia untuk akhirat, sehingga tak sia sia ketika diberi anugrah kehidupan oleh Allah.

Dengan Iman perempuan lebih sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan, mengingat bahwa Allah lah yang memberi ujian, maka Allah pula yang akan menyeleseikan ujian tersebut sesuai dengan ikhtiar kita dalam menjaga dan memelihara keimanan. Dengan ilmu dan iman, kesedihan karena beban berat dalam kehidupan akan terasa ringan.

Sekedar sebagai pengingat untuk para muslimah yang sedang dihadapkan pada pilihan menjalani  hidup sebagai ‘Single Parent’, jadilah diri sebagai ‘Single Fighter’ yang dibanggakan oleh buah hati kalian, yang mampu menjaga kehormatan diri dan keluarga, bukan hanya mereka yang mampu menjadi penyejuk hati orang tua, namun orang tua juga harus mampu menjadi penyejuk hati mereka.

Semoga kita tetap istiqomah dalam menjaga keimanan hingga ujian kehidupan mampu di lalui dengan kelapangan hati serta ketegaran.

Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada rasa khawatir terhadap mereka dan mereka tiada (pula) bersedih hati. (QS. Al Ahqaaf:13)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: