Beranda > Fiqh Rumah Tangga > Nak, Apakah Perintah Bunda Sudah Kamu Kerjakan?

Nak, Apakah Perintah Bunda Sudah Kamu Kerjakan?


Bunda Ayah….

Coba kita ingat-ingat…pernahkah kita meminta anak kita pergi untuk memenuhi suatu keperluan? Misalnya menyuruh dia ke warung, membeli suatu barang yang kita lupa membelinya. Setelah 15 menit dia belum kembali, kita pun mencarinya dan ternyata…dia kita dapati sedang bermain di depan rumah bersama teman-temannya. Tanpa terasa muka kita pun tertekuk cemberut, sambil menggeleng-gelengkan kepala berucap, “MasyaAllah Hamzah…Hamzah…kamu gimana sih…dari tadi mama nungguin, eh..tahunya kamu malah main. Itukan mau mama pakai masak. Ayo sana cepat….!”

Begitulah bunda ayah, selamat datang di dunia anak-anak. Jangan-jangan, dulu kita juga begitu ya? So pasti…tidak ada yang berubah dari lakon dunia ini selain setting waktu, tempat dan pemainnya yang berubah. Hampir setiap masa selalu ada pengulangan skenario kejadian. Apa yang terjadi hari ini, tentu juga tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di masa Rasulullah masih hidup. Paling tidak itu yang kita dapati ketika Anas bercerita suatu kejadian yang ia alami bersama Rasulullah. Anas mengatakan :

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ فَقُلْتُ وَاللهِ لاَ أَذْهَبُ وَفِي نَفْسِي أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي السُّوقِ فَإِذًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَبَضَ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي قَالَ فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقَالَ: يَا أُنَيْسُ أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَنَسٌ: وَاللهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ تِسْعَ سِنِينَ مَا عَلِمْتُهُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا أَوْ لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ: هَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling indah budi pekertinya. Pada suatu hari beliau menyuruhku untuk suatu keperluan. Demi Allah, saya tidak pernah bepergian untuk keperluanku sendiri, tetapi selamanya saya pergi untuk melaksanakan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku. Pada saat saya pergi, dan kebetulan bertemu dengan beberapa orang anak sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menepuk pundakku dari belakang. Saya menengok kepada beliau, dan beliau tersenyum. Lalu kata beliau; Hai, Anas kecil! Sudahkah engkau laksanakan apa yang aku perintahkan? Jawabku; Ya, saya akan pergi untuk melaksanakannya ya Rasulullah. Anas berkata; Demi Allah, sembilan tahun lamanya saya membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pernah saya dapatkan beliau menegur saya atas apa yang saya kerjakan dengan ucapan; ‘Mengapa kamu tidak melakukan begini dan begitu.’ ataupun terhadap apa yang tidak saya laksanakan, dengan perkataan; ‘seharus begini dan begini.’ (Shahih Muslim 2310-54)

Bagaimana bunda ayah ? Tentu kita akan tersenyum…ternyata Rasulullah menghadapi sebuah problematika yang sama dengan yang kita hadapi pada hari ini. Pada hadits di atas tergambar jelas kejadiannya. Anas bin Malik yang masih kecil pada saat di perintahkan oleh Rasulullah untuk melakukan suatu keperluan, ternyata tergoda untuk ikut bermain bersama teman-temannya, dan lupa dengan apa yang di perintahkan oleh Rasulullah. Tetapi ada yang berbeda. Cara Rasulullah bersikap terhadap kelalaian Anas itu sangat berbeda dengan sikap kita ketika menemukan kelalaian pada diri anak-anak kita. Rasulullah tidak marah, bahkan menghampiri Anas dan menepuk pundaknya sambil tersenyum. Kemudian memanggilnya dengan panggilan lembut kesayangan Anas…Ya Unais…(Anas kecil) sudahkah engkau laksanakan apa yang aku perintahkan? Ya…saya akan pergi untuk melaksanakannya ya Rasulullah. Subhanallah…sungguh sebuah fragmen yang indah.

Bunda ayah…, sekarang mari kita bayangkan ketika kita kehilangan 15 menit karena dia tidak melakasanakan perintah kita, lalu kita lanjutkan dengan 5 menit tambahan untuk memarahi dan membentak anak kita atau bahkan memukulnya. Apa yang kita dapatkan? Kita tetap akan kehilangan 15 menit kita ditambah dengan 5 menit tambahan marahnya kita. Ada hal lain lagi yang juga kita akan dapatkan. Mari kita buat sebuah permisalan, ketika seorang suami sangat marah kepada isterinya lalu sang suami membentak-bentak tidak terkendali, apakah yang di rasakan oleh sang isteri ? Sekarang, kalau sang suami tiga kali lebih besar dari sang isteri, ketakutan seperti apa yang akan di rasakan isteri? Lalu seperti apa yang akan di rasakan oleh anak-anak kita ketika kita marah, membentak-bentak mereka. Anak kita yang tergantung secara penuh dengan kita. Kitalah yang memberikan dia makanan, pakaian, tempat tinggal, kenyamanan, perlindungan. Kita pula sumber rasa cinta dia yang paling utama. Tiba-tiba, karena sebuah kesalahan kecil kita membuat dia seolah-olah menjadi penyebab rusaknya dunia. Dan jangan lupa bahwa kita, bagi anak-anak kita adalah panutan. Apa yang sering ia lihat maka itulah yang akan ia lakukan. Sepertinya kita memang sudah harus semakin banyak belajar dari Rasulullah. Bagaimana Rasul mendidik anak-anak dengan cara yang sangat bijak. Setiap sentuhan, setiap ucapan, setiap perbuatan adalah bagian dari contoh terbaik yang harus kita coba. Kalau dengan tersenyum kita bisa memberikan pemahaman, kesadaran serta koreksi terhadap anak-anak kita, kenapa kita harus memakai cara berteriak dan marah?. (Elvin Sasmita)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: