Beranda > Fiqh Rumah Tangga > Pelajaran dari Ibu

Pelajaran dari Ibu


Oleh Nooviyanti U

“Bu, tanggal 10, ya” ujarku hari itu setelah mencari-cari tanggal untuk pertemuan komunitas teman-teman yang suka menulis dan membaca. Ibu pun menyanggupi dengan senang hati tanpa ada keberatan sama sekali. Kami pun mulai membuat menu makanan dan apa saja yang harus dibeli dan dimasak. Aku mengusulkan makanan sederhana saja dan tidak berlebihan. Ibu pun menyetujuinya. Aku mendapat bagian untuk membeli kue di toko dan juga pabrik kue di dekat rumah. Membeli beberapa jenis camilan dan memesan kue favorit. Ibu sudah berbelanja dan siap memasak untuk tanggal 10.

Alhamdulillah, acara berlangsung lancar dengan satu komitmen untuk terus berkarya dan selalu menjalin silaturahim. Selepas teman-teman kembali ke rumahnya kami pun mulai membereskan kembali ruang tamu dan makanan yang tersisa.

Satu wajah lelah yang penuh senyum adalah ibu. Beliau dengan tulus, memfasilitasi pertemuan di hari itu. Ibu memasak, menyiapkan segala jenis yang diperlukan, memesan minuman, dan mengomandai khadimat di rumah. Semua bisa teratasi dengan sikap dan dukungan ibu atas kegiatan-kegiatanku. Ini bukanlah kali pertamanya ada acara di rumahku. Sudah beberapa momen diadakan acara di rumah yang sederhana ini. Dari dulu, rumah ini tak pernah sepi dari orang yang berkunjung. Tak jarang juga ada banyak acara yang diadakan. Dari mulai acara syukuran, akikahan, pengajian, buka puasa bersama, pertemuan penulis, arisan dan banyak lagi.

Ibu tak pernah merasa lelah ketika salah satu dari kami meminta tolong beliau ketika ada acara di rumah. Beliau malah sangat antusias dan memfaslitasi segala hal. Ketika ada kelebihan uang, ibu membeli karpet, tempat sop, beberapa lusin piring dalam beberapa kesempatan. Aku kadang bertanya buat apa barang-barang tersebut. Ibu pun menjawab, kalau ada acara di rumah, barang-barang tersebut bisa digunakan. Beliau pun juga bercerita kalau merasa dimuliakan sebagai tamu ketika mendatangi sebuah acara dan ingin melakukan hal itu juga.

Dari kecil ibu telah diajarkan oleh mbah putri untuk selalu memuliakan tamu dalam berbagai kesempatan. Selalu menyediakan suguhan ketika ada tamu. Entah itu secangkir teh atau segelas air putih. Tak jarang juga menyuruh ikut makan bersama kami, membelikan makanan atau memesan makanan via telepon apabila ada tamu mendadak. Seorang teman pernah sungkan untuk ke rumah ketika beberapa kesempatan dia selalu makan di rumah. Padahal, kami sama sekali tak bermaksud membuat dia malu. Yah, ibu tak akan pernah lupa menawarkan makanan. Tak jarang menyediakan langsung di meja atau memanggil tukang dagangan yang lewat rumah.

Pernah suatu kali ketika aku mengadakan pengajian untuk kelompok mentoring, ibu terlihat terburu-buru. Ketika aku tanya, beliau ingin membelikan kue untuk kami. Aku hanya tersenyum sambil mengatakan kalau aku sudah membeli kue dengan salah satu binaanku. Aku tak pernah meminta ibu berlaku demikian, tapi beliau tak pernah berhenti. Jadi, tak jarang ketika aku katakan kalau aku akan mengadakan acara atau pengajian kelompok, beliau akan membuat minuman, membeli kudapan di pasar dan menyiapkan tempat. Duh, ibu…

Salah satu pelajaran dari ibu yang akan aku pegang untuk selalu memuliakan tamu.
http://akunovi.multiply.com/
http://novikhansa.wordpress.com/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: