Beranda > Dunia Muslimah > Pelajaran dari Surat R.A Kartini

Pelajaran dari Surat R.A Kartini


Muslimahzone.com – Bermula dari interaksi dengan sebuah buku yang berjudul Fakta & Data Yahudi di Indonesia (Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara), saya menjumpai suatu pembahasan di halaman 66-69 yang berisi kisah mengenai pikiran-pikiran R.A Kartini tentang agama sebagaimana tertulis dalam surat-suratnya kepada kenalan-kenalannya di negeri Belanda. Berikut kutipan surat-suratnya sebagaimana termuat dalam buku tersebut.

Tahun-tahun datang dan mereka (tahun-tahun, RS) kemudian pergi… Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna. Demikianlah kami hidup terus sampai terbitlah matahari yang akan mendatangkan pergulingan di dalam kehidupan rohani kami. (Surat 15 Agustus 1902 kepada E.C. Abendanon)

Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun Islam, dan lain-lain. (Surat 31 Januari 1903)

Selalu menurut paham dan pengertian kami, inti segala agama adalah Kebajikan, yang membuat agama menjadi baik dan indah. Tapi, duh: orang-orang ini, apakah yang telah kalian buat atasnya (maksudnya kebajikan, RS). 

Agama adalah dimaksudkan sebagai karunia, untuk membentuk antara sesama makhluk Tuhan, cokelat atau putih, dari kedudukan, jenis, kepercayaan apapun, semua kita adalah anak-anak dari satu Bapak, dari satu Tuhan!

Tak ada Tuhan lain kecuali Allah! Kata kami orang-orang Islam, dan bersama kami juga semua orang beriman, kaum monotheis, Allah adalah Tuhan, Pencipta sekalian alam.

Anak-anak dari satu Bapak, dasar segala agama dara dan saudari jadinya, harus saling cinta-mencinta, artinya tunjang-menunjang, bertolong-tolongan. Tolong-menolong, tunjang-menunjang, cinta-mencinta, itulah nada dasar segala agama. (Surat 21 Juli 1902 kepada Ny. Van Kol)

Hanya ada satu kemauan, yang boleh dan harus kita punya: kemauan untuk mengabdi kepadanya: Kebajikan! (Surat Oktober 1900 kepada Ny. M.C.E. Ovink Soer)

Ada beberapa komentar yang cukup menyita perhatian saya.

Penulis mengangkat dasar persoalan mengenai pandangan agama R.A Kartini yang hanya sebatas dimensi tunggal, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia saja. Dan pandangan ini selaras dengan pemikiran Labberton (seorang Yahudi) yang menyatakan “Jangan sampai terjadi syariat diperkuat” atau sama dengan Daniel Lev (juga seorang Yahudi) yang mencela sikap fanatisme agama.

Di halaman sebelumnya diterangkan mengenai ajaran Teosofi (Dr. Annie Bessant, 1847-1927) yang diantara inti ajarannya adalah kebijakan Tuhan tanpa membedakan agama, dll.

Kaum teosofi inilah yang sangat gigih menembus dinding fanatisme agama, dan penjelmaannya kita kenal sekarang dengan “pluralisme agama”.

Dikatakan oleh penulis, ternyata R.A Kartini merupakan sasaran garapan kaum Teosofi ini. Setelah gagal mengajak Kartini sekolah ke negeri Belanda, maka dalam kehidupan Kartini dimasukkan seorang gadis kader Zionis bernama Jesephine Hartsteen.

Berdasarkan hal di atas itulah, saya memberanikan didri untuk menyelami suatu pengalaman lain yang terkait dengan surat-menyurat.

Banyak diberitakan oleh media massa atau suatu pengalaman yang sempat saya saksikan akibat surat-menyurat ini. Begitu sering didapati informasi yang menceritakan hubungan seseorang dengan yang lainnya yang awalnya biasa-biasa saja tetapi akhirnya “luar biasa”.

Internet dengan berbagai fasilitasnya memungkinkan terjadinya interaksi yang sangat sensitif. Dahulu hanya dengan sarana surat (kertas) yang dikirim via pos, kini e-mail sedikit-banyaknya menggantikan surat konvensional itu. Dahulu orang harus bertatap muka untuk dapat berbicara panjang lebar mengenai suatu hal. Kemudian telepon melengkapi fungsi ini. Sekarang lebih disemarakkan dengan internet yang mampu chatting dengan alat web cam-nya.

Bukan tanpa alasan saya mengaitkan suatu fenomena masa lalu dengan masa kini. Karena kita dapati sesungguhnya suatu permasalahan yang pernah ada di masa silam seringkali berulang dan terjadi lagi pada masa-masa berikutnya, dengan esensi yang sama, yang berbeda hanya bentuknya saja. Dalam hal ini dapat kita katakan, “Melalui pergaulannya, kita dapat mengetahui pandangan orang tersebut dalam suatu hal.”

Ternyata pandangan mengenai fenomena berkorespondensi yang dilakukan R.A Kartini pada zamannya, kita sadari dapat pula ditimbang dengan kacamata agama Islam. Tidak ada yang membantah jasa-jasa R.A Kartini bagi bangsa Indonesia. Sosok ini dikenal sangat berjasa mengeluarkan wanita dari kungkungan stigma negatif yang melekat pada diri mereka. Kebodohan karena kurangnya pendidikan mampu ditepis oleh R.A Kartini. Beberapa tulisan (termasuk surat-suratnya) mengindikasikan bahwa ia bukanlah wanita bodoh.

Pikiran berikut muncul dalam benak saya. Bagaimana pandangan beragama yang saya anut? Jawabannya saya temukan dalam pengalaman ilmiah ketika kuliah bebebrapa tahun yang lalu. Tidak terlampau sulit untuk mengingat hal-hal yang pernah saya pelajari.

Pernah suatu ketika terjadi pertempuran batin untuk memilih antara kebebasan berpikir atau keterikatan berpikir dalam pandangan agama. Sekilas pilihan yang benar kita tunjukkan kepada kebebasan berpikir. Sebenarnya bukan sebatas pilihan diantara keduannya, lebih jauh kita harus mendudukkan persoalannya pada maksud istilah “kebebasan” dan “keterikatan”. Apabila makna kebebasan berpikir koridornya ditempatkan pada pandangan agama maka produk berpikir yang mengandung asas-asas penyamaan agama (menganggap semua agama sama) adalah sah. Sedangkan keterikatan berpikir esensinya adalah pada hukum (kaidah) Islam justru bernilai bagi pemeluk agama Islam yang mengakui kebenaran agamanya secara sempurna.

Dalam kondisi khusus, saya dihadapkan pada persoalan toleransi beragama yang notabene sesama penganut Islam. Jawabannya pun muncul ketika kita ketahui bahwa derajat keimanan seseorang berbeda-beda. Begitupula dengan ilmu dan amalan-amalannya. Ada yang mengetahui agama Islam sampai mendalam sekaligus mengamalkannya dan inilah kondisi yang terbaik, dan yang lainnya tidak setingkat itu. Akhirnya muncul lah fenomena-fenomena kekinian yang esensinya sama dengan yang pernah terjadi di masa-masa terdahulu.

Pernah tersiar kabar tentang dahsyatnya pengaruh chatting dan ber e-mail di internet. Seseorang mempengaruhi keyakinan agama lawan komunikasinya. Sampai akhirnya seseorang berani menggadaikan keimanannya.

Dengan mencermati fenomena yang ada ternyata ada banyak isu kebebasan wanita (emansipasi) yang tidak dilandasi oleh pandangan agama. Tahap selanjtunya saya berpikir, “Mana yang lebih utama bagi seorang wanita yang menginginkan persamaan dengan kaum laki-laki dalam hal pendidikan, pendidikan agamakah atau pendidikan duniawi?”

Sebetulnya, saya terdorong untuk bertutur lebih jauh, ke suatu masa yang kita akan dapati banyak pelajaran berharga di dalamnya. Suatu masa yang terlukis indah dalam kitab autentik (Al-Quran). Suatu masa yang hidup di dalamnya orang-orang mulia, atas penilaian kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berserta para sahabat-sahabatnya Radhiallahu ‘anhum memberlakukan hanya hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketegasan dan kemuliaan hukum dari segala aspek kehidupan yang tak terbantahkan.

Berkaitan dengan masalah ini, beberapa hal di bawah hanyalah cuplikan singkat yang sangat berharga yang dapat dijadikan benteng ketika kita menjalin hubungan dengan orang lain.

Orang-orang terdahulu yang shalih yang menyampaikan kaidah, bahwa “Hati manusia itu lemah, sedang syubhat kecangn menyambar kelemahan itu sehingga pengaruh kejelekan akan mudah mempengaruhi diri seseorang dikarenakan lemahnya hati.”

Oleh karena itu kesadaran bahwa pandangan agama yang lurus harus kita perkokoh dalam hati kita. Kita membutuhkan teman dalam kebaikan , teman yang mampu menjaga keimanan kita.

“Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaknya seseorang diantara kamu melihat kepada (dengan) siapa dia bergaul.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Hakim dengan sanad yang saling menguatkan)

Di dalam sebuah hadis Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang dampak atau pengaruh seorang teman:

“Perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jahat adalah seperti penjual minyak wangi dengan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi tidak melewatkan kami baik engkau akan membelinya atau engkau tidak akan membelinya, engkau pasti akan mendapatkan baunya yang enak, sementara pandai besi akan membakar bajumu, atau engkau akan mendapatkan baunya yang tidak enak.” (Muttagaqun ‘Alaih)

Disalin dari: Majalah Mu’minah edisi 2

(zafaran/muslimahzone.com)

Kategori:Dunia Muslimah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: