Archive

Archive for the ‘Sirah Mujahidah’ Category

Shirah Mujahidah : Zaenab Al-Ghazali


dakwatuna.com – Nama lengkapnya adalah Zaenab Muhammad Al-Ghazali al-Jibili. la lahir pada tahun 1917 Masehi di desa Mayyet Ghamar di sebuah propinsi yang bernama Daqahliyah di Mesir. Ayahnya merupakan salah satu ulama Al-Azhar. la belajar di sebuah madrasah di kampung halamannya sendiri. la belajar ilmu-ilmu agama di bawah asuhan para ulama-ulama besar al Azhar. Di antara ilmu-ilmu yang ia pelajari adalah Ilmu Hadits, Tafsir, dan Fiqih.

la merupakan anggota termuda dari perkumpulan wanita-wanita Mesir di bawah pimpinan Hadi Sya’rawi. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari perkumpulan tersebut di saat mengetahui adanya perilaku-perilaku yang tak selaras dengan ajaran Islam. Ia kemudian mendirikan komunitas wanita-wanita muslim pada tahun 1937 di Kairo. Umurnya pada saat itu masih sekitar 19 tahun. Baca selanjutnya…

Kategori:Sirah Mujahidah

Shirah Mujahidah : Muadzah Al-Adawiyyah


Gelarnya adalah Ummu Sahba’. la merupakan salah satu dari para Tabi’in yang ikut meriwayatkan hadits Nabi. la adalah istri dari Shilah bin Asyim, seorang tabi’in yang konon juga merupakan seorang sahabat Nabi. Abu Nairn setelah memuji Shilah bin Asyim dalam kitabnya yang berjudul Huliyah Auliaya’ mengatakan bahwa Shilah bin Asyim mempunyai seorang istri yang bernama Muadzah Al-Adawiyyah. la seorang wanita yang tepercaya, argumentatif, pandai dan sekaligus senantiasa melakukan ibadah.”

la pernah berkata: “Aku telah menjalani kehidupan di dunia ini selama 70 tahun. Selama itu pula aku tak pernah melihat sesuatu yang bisa menggembirakan hati dan mataku.”

Di saat Syilah sedang terjun dalam sebuah peperangan bersama anak laki-lakinya, ia berkata “dimana anakku?” Setelah mendapatkan anaknya, ia langsung merangsak maju berperang dengan membawa anaknya, sehingga ia pun harus gugur di medan laga. Melihat musibah yang sedang dialami oleh Muadzah lantaran kematian suaminya, para wanita-wanita berkumpul pada sebuah tempat dan kemudian beranjak untuk mengunjungi Muadzah. Muadzah berkata kepada mereka ” selamat datang, apabila kalian semua datang untuk menenangkanku, maka aku menerima kehadiran kalian. Dan apabila bukan karena itu, maka kembalilah.” Baca selanjutnya…

Kategori:Sirah Mujahidah

Shirah Mujahidah : Hafsah binti Sirin


Ia adalah saudara perempuan Muhammad bin Sirin: seorang Tabi’in yang senantiasa beribadah dan sekaligus ahli dalam bidang fiqih.

Khafasah hafal Al-Qur’an dengan sangat baik semenjak berusia 12 tahun. Bahkan Muhammad bin Sirin sendiri di saat merasa kesukaran dalam memahami sesuatu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, memerintahkan kepada muridnya untuk pergi menghadap Hafsah. la berkata “menghadaplah kalian semua kepada Hafsah, dan bertanyalah kepadanya tentang bagaimana cara ia memahami permasalahannya ini (permasalahan yang bersangkutan dengan Al-Qur’an). Sebab, ia bagaikan orang yang telah meminum bahtera keilmuan yang ada dalam Al-Qur’an.”

Kemuliaannya sangat dikenal oleh ulama-ulama semasanya. Terbukti dari perkataan lyyas bin Muawwiyah: “aku tak pernah melihat satu pun orang yang lebih mulia dari Hafsah binti Sirin.” Khasan Basri dan bin Sirin sendiri juga mengakui, tak ada seorang pun yang bisa menandingi keutamaan Hafsah. Sehingga tidaklah mengherankan lagi, jika bin Dawud menggolongkannya sebagai wanita-wanita mulai dari kalangan para tabi’in. Baca selanjutnya…

Kategori:Sirah Mujahidah

Shirah Mujahidah : Nafisah binti Hasan


dakwatuna.com – Nama lengkapnya adalah Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. la lahir di Mekah pada tahun 145 Hijriyah dan merupakan anak dari seorang wali kota di Madinah. Namun pada masa pemerintahan Ja’far Al-Mansur, ayahnya harus digeser dari kedudukannya sebagai wali kota. Hartanya dirampas dan ia pun harus meringkuk di penjara. Namun, pada masa pemerintahan Al-Mahdi, jabatan dan seluruh harta bendanya yang pernah dirampas oleh Ja’far Al-Mansur, dikembalikan kembali.

la pernah pergi ke Baghdad untuk menjenguk ayahnya di saat masih dalam penjara. la telah menghafal Al-Qur’an semenjak kecil, dan sekaligus juga ikut mempelajari ilmu tafsir. la juga merupakan salah satu dari perawi Hadits. Maka tidaklah mengherankan lagi jika imam Syafi’i sendiri juga pernah meriwayatkan Hadits dari Nafisah. Dan tak hanya itu saja, imam Ahmad bin Hambal pun pernah pula meminta doa kepada Nafisah. la menikah dengan anak pamannya yang bernama Al-Mu’tamin Ishaq bin Ja’far, dan dikaruniai dua orang anak yang diberi nama dengan Qasim dan Ummu Kultsum. la di saat melakukan ibadah haji, pernah memegang kain penutup Ka’bah seraya berkata “ya Tuhanku, ya Tuanku, ya Majikanku, senangkanlah aku dengan keridhaan-Mu kepadaku.” la pada masanya, dikenal sebagai wanita yang mempunyai doa sangat mujarab. Baca selanjutnya…

Kategori:Sirah Mujahidah

Shirah Mujahidah : Rabi’ah Adawiyah


dakwatuna.com – Nama lengkapnya adalah Rabi’ah binti Ismail bin Hasan bin Zaid bin Ali bin Abi Thalib. la senantiasa dimintai sebuah fatwa dari beberapa pembesar-pembesar sufi masanya. Rasa ketakutannya kepada Allah telah menjadikannya sebagai seorang wanita yang senantiasa menangis. Ini tampak sekali di saat ia mendengar seorang laki-laki membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan Neraka di hadapannya, ia langsung berteriak dan tersungkur karena rasa ketakutannya terhadap api neraka. la senantiasa melakukan shalat malam secara penuh. Ketika fajar mulai menjelang, ia tidur sebentar ditempat shalatnya hingga pagi tiba.

Pada suatu waktu, datang seorang laki-laki memberikan uang sebanyak 40 dinar kepadanya. Ia berkata kepada Rabiah “gunakanlah uang ini untuk membantu keperluan-keperluanmu.” Mendengar perkataan itu, Rabiah Adawiyah menangis. Ia menengadahkan mukanya ke langit, seraya berkata “Tuhan telah mengetahui, bahwa aku malu meminta barang-barang duniawi kepada-Nya, padahal la lah yang memiliki dunia ini. Oleh karena itu, bagaimana mungkin aku akan meminta duniawi kepada orang yang sebenarnya tak memiliki duniawi itu? Baca selanjutnya…

Kategori:Sirah Mujahidah

Mengenal Fathimah Najjar, Pelaku Bom Syahid Paling Tua


“Saya ini pelaku bom syahid.. saya ini pelaku bom syahid…” Seperti ini kalimat yang selalu keluar dari lisan Hajah Fathimah Najjar (57) setiap kali ada orang yang mengajaknya untuk diam di rumah dan tidak terlibat dalam aksi perlawanan terhadap penjajah Israel. Sejumlah orang, mengkhawatirkan kondisinya yang sudah tua, jika harus terlibat dalam aksi perlawanan.

Fathimah, adalah seorang ibu sekaligus nenek bagi 20 orang anak dan cucu. Dia memang pelaku bom syahid yang terjadi pekan lalu di antara unit tentara militer, di sisi Timur Jabaliya, Utara Ghaza. Usai aksi syahid dilakukan, keluarganya membagi-bagikan kue dan permen kepada tetangganya, sebagai rasa syukur atas suksesnya aksi syahid yang dilakukan ibu sekaligus nenek mereka.

Ahmad, cucu paling kecil dari Hajah Fatimah mengatakan,”Nenek berpesan kepada saya, jika saya syahid mintalah kepada ayahmu uang dan belikan makanan dan permen untuk dibagi kepada teman-temanmu dan anak-anak kecil.” Baca selanjutnya…

Kategori:Sirah Mujahidah

Para Jagoan Wanita Di Zaman Rasulullah SAW


Muslimah & Mujahidah (Arrahmah.com)– Jika kita membaca sejarah para sahabat perempuan di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kita akan banyak menemukan kekaguman-kekaguman yang luar biasa. Mereka bukan hanya berilmu, berakhlaq, pandai membaca Al Qur’an, tapi juga jago pedang, berkuda dan memanah, dan tidak sedikit yang juga menjadi “dokter” yang pintar mengobati para sahabat yang terluka di medan perang. Bahkan, ada di antara mereka yang terpotong tangannya karena melindungi Rasulullah! Subhanallah… Simak kisah mereka..

Nusaibah si Jago Pedang

Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang mulia berdiri di puncak bukit Uhud dan memandang musuh yang merangsek maju mengarah pada dirinya. Beliau memandang ke sebelah kanan dan tampak olehnya seorang perempuan mengayun-ayunkan pedangnya dengan gagah perkasa melindungi dirinya. Beliau memandang ke kiri dan sekali lagi beliau melihat wanita tersebut melakukan hal yang sama – menghadang bahaya demi melindungi sang pemimpin orang-orang beriman. Baca selanjutnya…

Kategori:Sirah Mujahidah
%d blogger menyukai ini: