Arsip

Archive for the ‘Fiqh Puasa’ Category

Hukum Mencium dan Memeluk Isteri sampai keluar Madzi Saat Puasa


1. Syaikh berkata: Apa yang kamu sebutkan dalam suratmu bahwa kamu bermesraan dengan istrimu di siang hari ramadhan sampai-sampai kamu sudah duduk di antara keempat sisinya (posisi jima’, pent.) serta kamu memeluknya dan menciumnya sampai akhirnya kamu mengeluarkan madzi, akan tetapi kamu tidak sampai melakukan jima’ (penetrasi), dan bahwa hal ini terjadi selama enam atau tujuh hari. Lalu engkau bertanya apakah puasamu sah ? Baca selanjutnya…

Kategori:Fiqh Puasa

Fiqih Wanita Berkaitan Dengan Ramadhan


Wanita Dan Puasa Ramadhan

a. Wanita yang wajib berpuasa

dakwatuna.com – Wanita muslimah yang sudah baligh dan berakal ditandai dengan menstruasi (haidh), maka ia sudah wajib berpuasa di bulan Ramadhan apabila di bulan tersebut ia tidak dalam keadaan haidh atau nifas.

b. Wanita haidh atau nifas

Wanita yang sedang haidh atau nifas diharamkan melakukan puasa, jika ia melakukannya maka berdosa. Dan apabila seorang wanita yang sedang berpuasa keluar darah haidhnya baik di pagi, siang ataupun sore walaupun sesaat menjelang terbenamnya matahari, maka ia wajib membatalkannya, dan wajib mengqodhonya setelah ia bersuci. Juga sebaliknya jika wanita tersebut suci sebelum fajar walaupun sekejap maka ia wajib berpuasa pada hari itu walaupun mandinya baru dilakukan setelah fajar. Baca selanjutnya…

Kategori:Fiqh Puasa

Hukum Seputar Wanita di Bulan Ramadhan


Penulis: Ummu Hamzah
Muroja’ah: Ust. Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar

Bulan yang ditunggu-tunggu sebentar lagi akan datang. Semangat berpuasa akan semakin terbimbing saat kita mengetahui amalan yang kita lakukan tersebut memiliki dalil penuntun sebagai salah satu syarat diterimanya puasa tersebut oleh Allah. Sehingga, puasa akan menjadi bernilai ibadah dan bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja.

Puasa Ramadhan merupakan amalan yang Allah Ta’ala wajibkan bagi kaum muslimin dalam firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah: 183) Baca selanjutnya…

Kategori:Fiqh Puasa
%d blogger menyukai ini: